Mimpi, Mimpi, Mimpi

Aku terbangun dari tidurku, lagi. Sayang sekali, sepertinya mimpi yang tadi lebih baik dilanjutkan. Akhir-akhir ini aku banyak bermimpi indah, entah di waktu tidur siang, tidur sore ataupun malam. Sebenarnya bukan hanya di tiga waktu itu saja. Aku tidur di banyak waktu, itu terjadi karena aku mudah tertidur. Aku banyak tidur, makanya aku juga banyak bermimpi. Banyak bermimpi membuatku sulit membedakan kehidupan nyata atau mimpi. Melamun, lalu oh ternyata ini sungguhan. Suatu hari, aku bermimpi berangkat ke sekolah, aku tidak akan bilang ini termasuk mimpi indah seperti yang kubicarakan. Pada saat pelajaran berlangsung, aku merasakan getaran gelombang yang masuk ke telingaku. Guru matematika hari ini menyebut kata yang tidak asing di pendengaranku. Eh itu namaku ya?. Tubuh sekaligus jantungku berguncang. Aku yang bodoh dalam mata pelajaran matematika ditunjuk maju untuk menyelesaikan satu soal yang terlihat sederhana namun bagiku setara dengan soal ujian perguruan tinggi. Mau tidak mau aku bangkit dari dudukku dan melangkah ke depan lalu mengambil spidol di meja guru. Pertanyaan terus menerus dilontarkan oleh guru tersebut sampai sampai aku tidak bisa berpikir apapun di depan sana. Ditambah lagi dengan tatapan murid-murid pintar di barisan depan. Aku berteriak di dalam hati. Aku tidak mau mimpi ini, ini bukan mimpi menyenangkan seperti biasanya, aku ingin bangun dan berganti mimpi. Cubitan kecil mendarat di lenganku. Eh ini bukan mimpi, ini sungguhan. Dan ya, ini adalah ke sekian kalinya aku sulit membedakan kehidupan nyata dan mimpi.

Komentar